Live streaming Virtual Meeting yang diselenggarakan oleh PTA Pontianak bersama Sekretaris Ditjen Badilag Drs. Arief Hidayat , S.H., M.M. acara ini juga dikuti oleh seluruh aparatur Peradilan Agama se-Kalimantan Barat (Kamis, 24 September 2020) pukul 09.00 WIB. 

Sekretaris Ditjen Badilag menyampaikan materi tentang Pembangunan Zona Integritas menuju WBK dan WBBM yang mana WBK merupakan pintu masuk solidaritas Tim. Tim/Leader yang kuat tetapi tim tidak serius maka akan lemah. Jika Leader yang lemah tetapi tim yang solid maka tingkat keberhasilannya tinggi.  Dalam hal standar pelayanan, tempel maklumat pelayanan ditempat-tempat penting, mengartikan bahwa kita benar-benar siap memberikan pelayan kepada masyarakat, Memulai dengan potensi untuk mengurangi resiko dan memulai pelayanan dari perspektif diri sendiri dan perspektif yang dilayani dengan melakukan pelayanan dari hati. Ber-WBK dengan sempurna, jadilah Aparatur multitalent dan harus berani keluar dari zona nyaman.   

Acara yang dikemas dengan simulasi presentasi pembangunan zona integritas selama 5 menit oleh masing- masing Ketua Pengadilan Agama se-Kalimantan Barat yang diusulkan Zona Integritas ini, Sekjend Badilag memaparkan ada 7 (tujuh) kunci menuju sukses. Pertama, mulai dengan membuat target yang akan dicapai.  Kedua, kerja keras.  Ketiga, sungguh-sungguh. Keempat, Optimis. Kelima, Jika gagal coba lagi. Keenam, Berhenti menyalahkan orang lain. Ketujuh, Sertakan Allah Yang Maha Kuasa dalam setiap aktifitas.

Ditambahkanya lagi keberhasilan dari zona integritas dapat diukur dari 3 hal. Pertama,  tidak ada keluhan dari stakeholders (internal dan eksternal). “jika di kantor itu ada aparatur yang masih mengeluhkan AC-nya panas, komputer atau laptop sering mati dan lambat diperbaiki, gaji orang terlambat, hal itu menunjukkan bahwa kantor tersebut gagal dalam mewujudkan zona integritas”. Tambahnya.

Diharapkan Pengadilan Agama Se-Wilayah Pengadilan Tinggi Agama Pontianak dapat melaksanakan kegiatan pelayanan dengan baik, pelayanan prima, semakin inovatif,  kondusif meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19. (Arf